Rabu, 20 November 2013

ASUHAN KEPERAWATAN PEDIKULOSIS



A.    Konsep Dasar
1.      Pengertian
Pedikulosis adalah penyakit infeksi kulit/rambut pada manusia yang disebabkan dengan pediculus (tergolong family pediculidae). Selain menyerang manusia, penyakit ini juga menyerang binatang. (Adhi Djuanda, 1998)
Pedikulosis adalah infeksi kulit / rambut pada manusia yang disebabkan oleh parasit obligat pediculus humarus. (Arif Mansjoer, 2000)
                                                                                                                            
a.       Pedikulosis capitis
Infestasi kutu yang menyerang rambut di kepala
b.      Pedikulosis carporis                                             
Infestasi kutu pediculus humanus carporis pada badan
c.       Pedikulosis pubis
Infestasi oleh phthirus pubis yang menyerang daerah genital
           
2.      Etiologi Pedikulosis
a.       Pedikulosis capitis
Etiologi dari Pedikulosis capitis adalah pediculus humanus var. capitis. Kutu ini mempunyai 2 mata dan 3 pasang kaki, berwarna abu-abu dan merah jika telah menghisap darah.
  b.      Pedikulosis carpotis
Etiologi dari Pedikulosis carporis adalah Pedialus humarus var. Carporis Pediculus humarus var.carporis mempunyai 2 jenis kelamin, yakni jantan dan betina berukuran panjang 1,2 – 4,2 mm dan lebar kira – kira ½ panjangnya, sedangkan yang jantan lebih kecil
c.       Pedikulosis Pubis
Etiologi dari Pedikulosis Pubis adalah Phthirus pubis. Kutu ini juga mempunyai 2 jenis kelamin, yang betina lebih besar daripada yang jantan. Panjangnya sama dengan lebarnya yaitu 1 -2 mm.

3.      Patofisiologi
P. Humarus var. capitis dan p. Humarus var.carporis adalah penyebab dari Infeksi kulit parasitik pedikulosis. P. Humarus var.capitis dan P. Humarus var.carporis berkembang biak sesuai dengan siklus hidup tuma yaitu telur, larva, nimpa dan akhirnya tumbuh dewasa. Pada saat bertelur (nits) mereka akan berada disepanjang rambut dan mengikuti tumbuhnya rambut manusia dan cara penularan mereka adalah melalui kontak langsung dan tidak langsung. Pada masa siklus nimpa, mereka akan turun ke dasar rambut kemudian berkembang biak menjadi dewasa dan mengeluarkan sekret yang dimasukkan ke dalam kulit sewaktu menghisap darah, mengakibatkan timbulnya rasa gatal yang hebat dan adanya rasa panas dikulit kepala. Akibat garukan tersebut maka akan timbul kelainan kulit lainnya seperti erosi, ekskotiasi dan infeksi sekunder. Hal tersebut dapat menyebabkan berbagai komplikasi diantaranya Pioderma ( infeksi kulit yang terbebtuk pus ) dan terdapat pembesaran kelenjar getah bening.
Pedikulosis Pubis disebabkan oleh phthirus pubis yang dalam siklus hidupnya mengalami morfologi yaitu telur, larva, nimpa dan tumbuh menjadi kutu dewasa. Kutu tersebut masuk melalui kulit / folikel rambut dan menghisap darah dengan mengeluarkan saliva yang dapat mengubah bilirubin menjadi biliverdin. Hal tersebut menimbulkan makula pada tubuh, paha, ketiak yang berwarna coklat kemerahan disebut juga makula scrulae sehingga mengakibatkan rasa gatal yang hebat. Timbullah lesi yang diakibatkan dari garukan dan adanya bercak hitam yang twerdapat pada celana dalam akibat krusta. Pada akhirnya mengakibatkan infeksi sekunder dengan pembesaran KGB regional.
Cara penularan
a.       Pedikulosis Capitis
Pada lingkungan yang padat, anak-anak, cara penularannya melalui benda perantara, misalnya : sisir, bantal, kasur, topi, sikat rambut, wig, bantal dan sprei.
b.      Pedikulosis Corpotis
Pada orang dewasa dengan hygiene yang buruk (jarang mandi/ganti pakaian), cara penularannya dapat melalui pakaian maupun kontak langsung.
c.       Pedikulosis Pubis
Pada orang dewasa, PMS serta mengenai jenggot dan kumis, pada anak-anak pada alis / bulu mata. Cara penularannya umumnya kontak langsung, hubungan seks atau dengan benda seperti pakaian, handuk dan sprei.

4.      Manifestasi Klinis
a.       Rasa gatal yang hebat terutama daerah oksiput, temporal dan pubis.
b.      Rasa panas di sekitar kulit kepala
c.       Pruritis
d.      Eritema, iritasi dan infeksi sekunder akibat garukan.
e.       Kulit kering dan bersisik dengan daerah-daerah yang berpigmen serta berwarna gelap.
f.       Ditemukan kutu atau telur kutu.
g.      Rambut akan bergumpal, berbau busuk akibat banyaknya pus dan krusta.
h.      Pembesaran kelenjar getah bening regional.
i.        Adanya kelainan di kulit berupa garis-garis bekas garukan dan bintik-bintik kemerahan yang kecil dan khas.

5.      Pemeriksaan Penunjang
a.       Anamnesis
Riwayat keluhan penderita, riwayat adanya penyakit yang sama pada keluarga.
b.      Pemeriksaan fisik
§  Ditemukan telur/kutu dengan pemeriksaan secara seksama terutama apabila dicari di daerah oksiput dan temporal.
§  Telur berwarna abu-abu dan berkilat.
§  Adanya lesi akibat garukan dan kelainan kulit.
§  Pembesaran kelenjar getah bening regional.
c.       Pemeriksaan mikroskop
§  Ditemukan telur kutu yang menempel pada batang rambut.
§  Ditemukan kutu dan telur pada serat kapas pakaian.

6.      Penatalaksanaan
a.       Pedikulosis Capitis
§  Pengobatan yang dianggap terbaik ialah malathion 0,5% atau 1% dalam bentuk lasio atau spray
Cara pemakaian : malam  sebelum  tidur  cuci  rambut  dengan shampo
kemudian oleskan losio malathion dan tutup kepala dengan kain. Keesokan harinya cuci rambut dengan shampo lalu disisir dengan serit. Pengobatan dapat diulang lagi seminggu kemudian jika masih terdapat kutu atau telur kutu.

§  Pengobatan lain dan cukup efektif ialah krim gameksan 1%.
Cara pemakaian : setelah dioleskan dan didiamkan selama 12 jam, cuci
dan sisir rambut dengan serit agar semua kutu dan telur terlepas. Jika masih terdapat telur, seminggu kemudian diulangi dengan cara yang sama. Obat lain ialah emulsi benzil benzoat 25%, dipakai dengan cara yang sama.
§  Pada keadaan infeksi sekunder berat, sebaiknya rambut dicukur, diobati dengan antibiotik sistemik dan topikal, preparat antipruritus, lalu disusul dengan obat di atas dalam bentuk shampo.
§  Semua barang, pakaian, handuk dan perangkat tempat tidur yang bisa mengandung tuma atau telurnya harus dicuci dengan air panas, sedikitnya dengan suhu 54oC atau dicuci kering (dry cleaning) untuk mencegah infeksi silang.
§  Perabot, permadani dan karpet yang berbulu halus sering dibersihkan dengan alat vacum cleaner.
§  Sisir dan sikat rambut juga harus didesinfeksi dengan shampo.
§  Semua anggota keluarga dan  orang yang berhubungan erat dengan pasien harus diobati.

b.      Pediculosis Corporis
§  Dengan menggunakan krim gamekson 1% yang dioleskan tipis di seluruh tubuh dan didiamkan 24 jam, setelah itu mandi, jika belum sembuh diulangi 4 hari kemudian.
§  Pengobatan lain ialah emulsi benzil benzoat 25% dan bubk malathion 2%.
§  Pakaian direbus atau disetrika untuk membunuh telur dan kutu.
§  Jika terdapat infeksi sekunder, obati dengan antibiotik sistemik dan topikal.
c.       Pediculosis Pubis
§  Harus dicari penyakit menular seksual lain yang mungkin menyertai pedikulosis pubis sering diderita bersamaan dengan PMS lain, seperti gonorrhea, trikomoniasis, skabies, kandidosis dan sifilis.
§  Pasangan seks atau anggota keluarga harus diperiksa jika perlu diobati.
§  Pakaian dalam, handuk dan sprei dicuci dengan air panas dan disetrika, atau jangan dipakai sedikitnya selama 3 hari.
§  Shampo gameksan (Lindare) 1% yang dioleskan selama 4 menit kemudian dicuci.
§  Krim permithrin 1 % yang dioleskan selama 10 menit kemudian dicuci.
§  Salep mata oklusif pada tepi kelopak mata, 2 kali sehari selama 10 hari.
§  Salep mata fisostigmin 0,25%, 4 kali sehari selama 3 hari.
§  Sebaiknya rambut kelamin dicukur.
§  Setelah 1 minggu dilakukan evaluasi, bila masih ditemukan kutu atau telurnya pada pangkal rambut, maka therapi harus diulang. Untuk rasa gatal yang menetap karena sensitasi, dapat diberikan anti inflamasi ringan seperti krim hidrokortison 1%, 2 kali sehari.

Pendidikan kesehatan pada klien pedikulosis
§  Adanya penyuluhan dan penjelasan bahwa tuma dapat menjangkit setiap orang dan keadaan ini menyebar dengan cepat dan terapinya harus segera dimulai.
§  Anjurkan kepada masyarakat untuk tidak memakai sisir, sikat rambut dan topi yang sama.
§  Perlunya penyuluhan mengenai hygiene perorangan dan cara-cara pencegahan / mengendalikan infestasi kutu.
§  Untuk pasien dan pasangan seksualnya, harus dilakukan pemeriksaan diagnostik terhadap penyakit menular seksual.

7.      Komplikasi
a.       Pruritus yang hebat
b.      Pioderma
c.       Dermatitis
d.      Pembesaran kelenjar getah bening.

B.     Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Pedikulosis
1.      Pengkajian
a.       Data biografi (nama, umur, pekerjaan, alamat, dll)
b.      Riwayat kesehatan lalu
§  Riwayat personal hygiene yang buruk
§  Sering berganti pakaian secara bersama-sama
§  Penyakit menular seksual : sifilis, gonorrhea.
c.       Riwayat kesehatan keluarga
§  Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama, sehingga penularan penyakit dapat terjadi.
§  Keluarga / pasangan yang menderita PMS
§  Hygiene anggota keluarga yang buruk.
d.      Riwayat kesehatan sekarang
§  Integritas ego
Gejala   : mungkin cemas, ketakutan dan khawatir, menarik diri.
Tanda   : gelisah, pucat, kurang percaya diri
§  Nyeri dan kenyamanan
Tanda   : gatal pada daerah temporal, occiput dan pubis
Rasa panas di kulit kepala, eritema, iritasi dan kulit kering, bersisik, adanya bekas garukan dan bintik-bintik kemerahan.
Adanya lesi, krusta akibat garukan.
§  Keamanan
Keadaan pada kulit : adanya lesi, pus dan krusta, pembesaran kelenjar
getah bening.
Keadaan pada rambut : rambut  bergumpal  dan  berbau  busuk,  infeksi
sekunder akibat garukan, ditemukannya kutu / telur kutu.
§  Interaksi sosial
Tanda   : perasaan isolasi / penolakan karena penyakit menular, perasa-
  an malu, dan minder.
§  Penyuluhan / pembelajaran
Tanda   : -    Ketidaktahuan / ketidakadekuatan mengenai penyebab,
proses penyakit dan pengobatan.
-          Riwayat PMS seperti gonorrhea, trikomoniasis, scabies, kandidoasis.
-          Riwayat keluarga yang mempunyai penyakit yang sama.

2.      Diagnosa Keperawatan
a.       Gangguan rasa nyaman & nyeri : gatal b.d adanya gigitan kutu disertai pengeluaran lendir.
b.      Kerusakan integritas kulit b.d adanya lesi akibat garukan.
c.       Gangguan konsep diri : HDR b.d  perubahan gambaran diri.
d.      Resiko penyebaran infeksi b.d kerusakan pertahanan primer
e.       Kurang pengetahuan mengenai proses penyakit, perawatan dan prosedur pengobatan b.d kurangnya informasi.

3.      Intervensi
a.       Dx. 1 Gangguan rasa nyaman & nyeri : gatal b.d adanya gigitan kutu disertai pengeluaran lendir
Tujuan        : setelah dilakukan intervensi, rasa nyeri klien berkurang
KH             :  -    Klien mengatakan nyeri berkurang dengan skala nyeri 0-1
-          Klien tampak rileks
-          Gatal (-)
Intervensi   :
1)      Kaji keluhan nyeri / gatal, lokasi, frekuensi, intensitas (skala) dan waktu
R/  dengan  mengkaji  keluhan  nyeri / gatal  dapat  diperoleh data yang
dibutuhkan untuk intervensi selanjutnya.
2)      Observasi petunjuk non verbal gatal, misal : menggaruk, ekspresi wajah.
R/  Rasa  gatal merupakan petunjuk non verbal dapat membantu meng-
evaluasi rasa gatal dan keefektifan perawatan.
3)      Ajarkan klien untuk melakukan tehnik mengurangi nyeri / gatal :
     relaksasi dan distraksi, terutama bila keluhan gatal timbul.
R/  tehnik relaksasi dan distraksi dapat mengurangi nyeri / gatal.
4)      Berikan pendkes tentang efek menggaruk dengan benar daerah yang nyeri / gatal, misalnya dengan menggaruk dengan ujung jari kuku dan garukan yang keras, melainkan dengan permukaan kuku-kuku jari dan garukan perlahan.
R/  dengan  adanya  pendkes  dapat  mencgah  terjadinya  infeksi   yang
lebih akut serta erosi.
5)      Anjurkan pada klien untuk menggunakan sarung tangan kain lembut
R/  sarung  tangan  kain  yang  lembut  dapat  mengurangi  iritasi akibat
garukan.
6)      Bersihkan kutu / telur pada batang rambut menggunakan sisir yang rapat.
R/  mengurangi rasa gatal akibat gigitan kutu.

7)      Kolaborasi dalam pemberian analgetik jika perlu
R/  analgetik dapat mengurangi rasa nyeri.
8)      Kolaborasi dalam pemberian obat antipruritus (anti gatal)
R/  anti pruritus dapat mengurangi rasa gatal.

b.      Dx. 2 Kerusakan integritas kulit b.d adanya lesi akibat garukan.
Tujuan        : setelah  dilakukan  intervensi,  integritas  kulit  klien  kembali
  utuh.
KH             :  -     Lesi (-)                           -     Iritasi (-)
-          Pruritus (-)                      -     Erosi (-)
-          Eritema (-)                      -     kulit lembut dan elastis.
Intervensi   :
1)      Kaji keadaan kulit, warna, turgor kulit dan sirkulasi
R/  menentuan data dasar untuk melakukan intervensi selanjutnya.
2)      Anjurkan kepada klien untuk mempertahankan hygiene kulit, misal dengan mandi menggunakan sabun antiseptik, kemudian mengeringkannya secara hati-hati dan menggunakan lotion serta melakukan massase.
R/  mempertahankan  kebersihan  karena  kulit  yang kering dapat men-
jadi barier infeksi. Pembasuhan kulit kering sebagai ganti menggaruk menurunkan resiko trauma dermal pada kulit yang kering / rapuh. Massase meningkatkan sirkulasi kulit dan meningkatkan kenyamanan.
3)      Anjurkan klin untuk menggunting kuku secara teratur
R/  kuku  yang  panjang / kasar  meningkatkan resiko kerusakan dermal
akibat garukan.
4)      Tutup luka dengan pembalut steril apabila lukanya besar lerosi, okskariasi dan infeksi sekunder.
R/  dapat  mengurangi  kontaminasi  bakteri  dan  meningkatkan proses
penyembuhan.
5)      Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan topikal / sistemik sesuai indikasi.
R/  oabt-obatan   topikal  dapat  meningkatkan  penyembuhan  lesi  dan
menghindari kontaminasi silang.
6)      Kolaborasi dalam pemberian obat penghilangan kutu (pedytox, grimekson)
R/  pemberian   obat   menghilang   kutu  dapat  mengurangi  kerusakan
integritas kulit karena penyebab kerusakan integritas kulit berkurang / hilang.
7)      Kolaborasi dalam pemberian bedak / lotion antiseptik
R/  bedak / lotion   antiseptik   dapat  mengurangi  kerusakan  integritas
kulit.

c.       Dx. 3 Gangguan konsep diri : HDR b.d  perubahan gambaran diri
Tujuan        : setelah  dilakukan  intervensi  konsep  diri  klien  kembali me-
  ningkat
KH             :  -     Percaya diri klien meningkat
-          Menarik diri (-)
-          Koping individu klien efektif
-          Klien dapat berinteraksi sosial dengan baik.
Intervensi   :
1)      Bina hubungan saling percaya saat merawat klien
R/  dengan  terbinanya  hubungan  saling  percaya  dapat  memudahkan
intervensi selanjutnya.
2)      Kaji perasaan yang dialami oleh klien tentang perubahan gambaran tubuhnya.
R/  mengetahui  sejauh  mana  perasaan klien terhadap perubahan gam-
baran tubuhnya.
3)      Anjurkan klien untuk mengungkapkan perasaannya dengan pertanyaan terbuka
R /   perasaan  citra  diri yang negatif dapat menunjukkan adanya keke-
cewaan akibat perubahan citra diri yang dialaminya dan membantu klien untuk menerima masalahnya.
4)      Upayakan lingkungan yang aman dan tenang
R/  lingkungan  yang  tenang  dapat menurunkan kecemasan klien yang
berdampak pada konsep diri klien.
5)      Jelaskan pada klien tentang perubahan yang terjadi pada dirinya.
R/  dengan adanya informasi yang adekuat dapat mengurangi keemasan
klien.
6)      Anjurkan adanya keberadaan anggota keluarga atau orang terdekat di samping klien.
R/  berguna untuk memberikan dukungan kepada klien dan meningkat-
kan support sistem klien.
7)      Berikan penguatan positif terhadap upaya-upaya yang dilakukan klien, beri sentuhan dan kata-kata yang menyejukkan sebagai penguatan.
R/  meningkatkan  percaya  diri  individu  terhadap kemampuan sendiri
untuk mengatasi masalah yang dialami oleh klien.

d.      Dx. 4 Resiko penyebaran infeksi b.d kerusakan pertahanan primer
Tujuan        : setelah melakukan intervensi, penyebaran infeksi tidak terjadi
KH             :  -    Tanda-tanda infeksi (-) (tumot (-), rubor (-), kalor (-),
dolor (-), fungsiolaesa (-))
-          TTV dalam batas normal : suhu 36,1-37oC
-          Tidak adanya kutu maupun telur kutu pada klien.
Intervensi   :
1)      Kaji tanda-tanda infeksi (tumor, rubor, kalor, dolor, fungsiolaesa)
R/  menentukan data dasar untuk melakukan intervensi selanjutnya
2)      Anjurkan pentingnya tehnik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang kontak dengan pasien.
R/  mencegah kontaminasi silang, menurunkan resiko infeksi
3)      Anjurkan klien untuk mencuci dengan air panas, sedikitnya dengan suhu 54oC atau dicuci kering (dry cleaning) semua barang, pakaian, handuk, perangkat tempat tidur.
R/  mencegah  kontaminasi  silang,  mencegah  terpajan dari organisme
infeksius.
4)      Anjurkan klien untuk tidak menggunakan sisir, pakaian, bantal, handuk (alat tenun) secara bergantian
R/  untuk mengurangi kontaminasi silang
5)      Batasi pengunjung, jelaskan prosedur isolasi terhadap pengunjung bila perlu
R/  mencegah   kontaminasi   silang  pada  pengunjung  masalah  resiko
infeksi harus seimbang melawan kebutuhan pasien untuk dukungan keluarga dan sosialisasi.
6)      Anjurkan kepada klien untuk tidak bergonta-ganti pasangan seks
R/  gonta-ganti pasangan seks dapat menyebabkan infeksi silang karena
adanya kontak langsung
7)      Anjurkan klien untuk mencukur atau mengikat rambut di sekitar area yang terdapat kutu.
R/  rambut media yang baik untuk pertumbuhan kutu.
8)      Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan topikal (salep), shampo gameksan, krim.
R/  dapat mengurangi dan menghambat pertumbuhan kutu.

e.       Dx. 5 Kurang pengetahuan mengenai proses penyakit, perawatan dan prosedur pengobatan b.d kurangnya informasi

Tujuan        : pengetahuan klien dan keluarga meningkat setelah dilakukan
  intervensi
KH             :  -    Klien   dan   keluarga  dapat  memahami  tentang  proses
penyakit, perawatan dan pengobatan.
-          Klien terlihat kooperatif dalam pengobatan /berpartisipasi
-          Klien terlihat tidak bertanya-tanya lagi
-          Klien melakukan tindakan benar dan dapat menjelaskan alasannya
-          Klien melakukan perubahan pola hidup.
Intervensi   :
1)      Kaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakitnya.
R/  mengetahui sejauh mana klien mengerti mengenai penyakitnya dan
prosedur pengobatan
2)      Diskusikan tentang diagnosa penyakit dan cara perawatan berikutnya
R/  menambah pengetahuan klien mengenai penyakitnya
3)      Diskusikan tentang pengobatan, nama, jadwal, tujuan, dosis dan efek sampingnya
R/  memberi  struktur  dan mengurangi ansietas pada waktu menangani
proses penyakitnya.
4)      Anjukan klien untuk mengekspresikan perasaannya
R/  mengetahui sejauh mana perasaan klien terhadap penyakitnya.
5)      Beri kesempatan klien untuk bertanya tentang hal-hal yang belum dipahami
R/  mengetahui sejauh mana tingkat pengetahun dan pemahaman klien
tentang proses penyakit, perawatan dan pengobatan.
6)      Jelaskan pada klien mengenai proses penyakit dan cara pemakaian obat serta efek samping yang ungkin timbul.
R/  memberikan  informasi  untuk  membentuk klien dalam memahami
dan mengatasi situasi
7)      Berikan pendkes mengenai proses penyakitnya, perawatan dan pengobatan, misalnya meningkatkan personal hygiene.
R/  peningkatan pengetahuan pada klien dapat meminimalkan terjadi-
nya komplikasi.
8)      Evaluasi klien dalam pemahaman klien mengenai proses penyakit, perawatan dan prosedur pengobatannya.
R/  pemantauan  sendiri  meningkatkan  pemahaman klien dalam peme-
liharaan kesehatan dan mencegah terjadinya komplikasi.

4.      Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai intervensi dan kondisi klien

5.      Evaluasi
a.       Rasa nyaman, nyeri dan gatal klien hilang / terkontrol
b.      Integritas kulit klien utuh
c.       Konsep diri klien adekuat
d.      Penyebaran infeksi tidak terjadi
e.       Pengetahuan klien bertambah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar