Minggu, 13 Januari 2013

ASKEP ITP


BAB II
PEMBAHASAN

A.    DEFINISI
  • Trombositopenia  adalah  suatu  kekurangan  trombosit,  yang merupakan bagian dari pembekuan darah.
  • ITP adalah suatu keadaan perdarahan berupa petekie atau ekimosis di kulit / selaput lendir dan berbagai jaringan dengan penurunan jumlah trombosit karena sebab yang tidak diketahui. (ITP pada anak tersering terjadi pada umur 2 – 8 tahun), lebih sering terjadi pada wanita
  • ITP adalah singkatan dari Idiopathic Thrombocytopenic Purpura. Idiopathic berarti tidak diketahui penyebabnya. Thrombocytopenic berarti darah yang tidak cukup memiliki keping darah (trombosit). Purpura berarti seseorang memiliki luka memar yang banyak (berlebihan).
  • Istilah ITP ini juga merupakan singkatan dari Immune Thrombocytopenic Purpura. Idiophatic (Autoimmune) Trobocytopenic Purpura (ITP/ATP) merupakan kelainan autoimun dimana autoanti body Ig G dibentuk untuk mengikat trombosit. Tidak jelas apakah antigen pada permukaan trombosit dibentuk.
  • Meskipun antibodi anti trombosit dapat mengikat komplemen, trombosit tidak rusak oleh lisis langsung. Insident tersering pada usia 20-50 tahum dan lebih sering pada wanita dibanding laki-laki (2:1). (Arief mansoer, dkk)
B.     ETIOLOGI
·         Hipersplenisme.
·         Infeksi virus.
·     Intoksikasi makanan / obat (asetosal para amino salisilat (PAS). Fenil butazon, diamokkina, sedormid).
·         Bahan kimia.
·         Pengaruh fisi (radiasi, panas).
·         Kekurangan factor pematangan (malnutrisi).
·         Koagulasi intra vascular diseminata CKID.
·         Autoimune.


Jenis ITP:
1.      Akut.
a.       Awalnya dijumpai trombositopenia pada anak.
b.      Jumlah trombosit kembali normal dalam 6 bulan setelah diagnosis (remisi spontan).
c.       Tidak dijumpai kekambuhan berikutnya.
2.      Kronik
a.       Trombositopenia berlangsung lebih dari 6 bulan setelah diagnosis.
b.      Awitan tersembunyi dan berbahaya.
c.       Jumlah trombosit tetap di bawah normal selama penyakit.
d.      Bentuk ini terutama pada orang dewasa.
3.      Kambuhan
a.       Mula-mula terjadi trombositopenia.
b.      Relaps berulang.
c.       Jumlah trombosit kembali normal diantara waktu kambuh.

C.    Patofisiologi

D.    Manifestasi Klinis
1.      Tanda dan Gejala
a.       Masa prodormal, keletihan, demam dan nyeri abdomen.
b.      Secara spontan timbul petekie dan ekimosis pada kulit.
c.       Epistaksis.
d.      Perdarahan mukosa mulut.
e.       Menoragia.
f.       Memar.
2.      Pemeriksaan Penunjang
·         Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan Trombosit <10.000/ml. Terkadang dapat terjadi anemia ringan yang disebabkan oleh perdarahan.
·         Pemerisaan Morfologi sel darah normal, kecuali trombosit yang agak membesar (Megakariosit). Megakariosit merupakan trombosit yang dihasilkan sebagai respon dari destruksi trombosit.
·         Pemeriksaan Leukosit normal
·         Pada pemeriksaan sumsum tulang terlihat normal dengan jumlah megakariosit normal atau meningkat
·         Masa Perdarahan memanjang

E.     Penatalaksanaan
·         ITP Akut
·         Ringan: observasi tanpa pengobatan → sembuh spontan.
·         Bila setelah 2 minggu tanpa pengobatan jumlah trombosit belum naik, maka berikan kortikosteroid.
·         Bila tidak berespon terhadap kortikosteroid, maka berikan immunoglobulin per IV.
·         Bila keadaan gawat, maka berikan transfuse suspensi trombosit.
·         ITP Menahun
·         Kortikosteroid diberikan selama 5 bulan.
Missal: prednisone 2 – 5 mg/kgBB/hari peroral. Bila tidak berespon terhadap kortikosteroid berikan immunoglobulin (IV).
·         Imunosupressan: 6 – merkaptopurin 2,5 – 5 mg/kgBB/hari peroral.
o   Azatioprin 2 – 4 mg/kgBB/hari per oral.
o   Siklofosfamid 2 mg/kgBB/hari per oral.
·         Splenektomi.
Indikasi:
o   Resisten terhadap pemberian kortikosteroid dan imunosupresif selama 2 – 3 bulan.
o   Remisi spontan tidak terjadi dalam waktu 6 bulan pemberian kortikosteroid saja dengan gambaran klinis sedang sampai berat.
Kontra indikasi:
o   Anak usia sebelum 2 tahun: fungsi limpa terhadap infeksi belum dapat diambil alih oleh alat tubuh yang lain (hati, kelenjar getah bening dan thymus)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENYAKIT ITP
A.    Pengkajian
1.      Asimtomatik sampai jumlah trombosit menurun di bawah 20.000.
2.      Tanda-tanda perdarahan.
·         Petekie terjadi spontan.
·         Ekimosis terjadi pada daerah trauma minor.
·         Perdarahan dari mukosa gusi, hidung, saluran pernafasan.
·         Menoragie.
·         Hematuria.
·         Perdarahan gastrointestinal.
3.      Perdarahan berlebih setelah prosedur bedah.
4.      Aktivitas / istirahat.
Gejala :
·         keletihan, kelemahan, malaise umum.
·         toleransi terhadap latihan rendah.
Tanda 
·         takikardia / takipnea, dispnea pada beraktivitas / istirahat.
·         kelemahan otot dan penurunan kekuatan.
5.      Sirkulasi.
Gejala :
·         riwayat kehilangan darah kronis, misalnya perdarahan GI kronis, menstruasi berat.
·         palpitasi (takikardia kompensasi).
Tanda :
·         TD: peningkatan sistolik dengan diastolic stabil.
6.      Integritas ego.
Gejala : keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan: penolakan transfuse darah.
Tanda :Depresi
7.      Eliminasi.
Gejala : Hematemesis, feses dengan darah segar, melena, diare, konstipasi.
Tanda : distensi abdomen.


8.      Makanan / cairan.
Gejala :
·         penurunan masukan diet.
·         mual dan muntah.
Tanda : turgor kulit buruk, tampak kusut, hilang elastisitas.
9.      Neurosensori.
Gejala :
·         sakit kepala, pusing.
·         kelemahan, penurunan penglihatan.
Tanda :
·         epistaksis.
·         mental: tak mampu berespons (lambat dan dangkal).
10.  Nyeri / kenyamanan.
Gejala : nyeri abdomen, sakit kepala.
Tanda : takipnea, dispnea.
11.  Pernafasan.
Gejala : nafas pendek pada istirahat dan aktivitas.
Tanda : takipnea, dispnea.
12.  Keamanan
Gejala : penyembuhan luka buruk sering infeksi, transfuse darah sebelumnya.
Tanda : petekie, ekimosis.

B.     Diagnosa Keperawatan
  1.  Defisit volume cairan dan elektrolit b/d kehilangan cairan akibat perdarahan
  2.  Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
  3. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrisi ke sel.
  4. Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen darah.
  5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
  6. Kurang pengetahuan pada keluarga tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi.
C.    Intervensi Keperawatan
1.      Defisit volume cairan dan elektrolit b/d kehilangan cairan akibat perdarahan
            Kriteria Hasil:
·         Keseimbangan cairan kembali ke kondisi normal
·         Klien tidak muntah lagi
·         Klien mengkonsumsi makanan dan minuman dalam jumlah adekuat
Intervensi
Rasional
a.       Kaji status intake dan output cairan

b.      Timbang BB setiap hari

c.       Beri cairan intravena yg terdiri dari glukosa, elektrolit dan vitamin

d.      Anjurkan klien untuk mengkonsumsi cairan peroral dengan perlahan
e.       Tranfusi darah

a.       Pengkajian tersebut menjadi dasar rencana askep dan evaluasi intervensi
b.      Penurunan BB dapat terjadi karena muntah berlebihan
c.       Mencegah kekurangan cairan dan memperbaiki keseimbangan asam basa
d.      Pemberian cairan dan makanan sesuai dengan toleransi klien
e.       Mengganti darah yang hilang akibat proses penyakit

2.      Gangguan pemenuhan nutrisi dan cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
Tujuan:
·         Menghilangkan mual dan muntah
Kriteria hasil:
·         Menunjukkan berat badan stabil
Intervensi
Rasional
a.       Berikan nutrisi yang adekuat secara kualitas maupun kuantitas.
b.      Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering.
c.       Pantau pemasukan makanan dan timbang berat badan setiap hari.

d.      Lakukan konsultasi dengan ahli diet.


e.       Libatkan keluarga pasien dalam perencanaan makan sesuai dengan indikasi.

a.       Mencukupi kebutuhan kalori setiap hari.
b.      Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan yang sesuai dengan kalori.
c.       Anoreksia dan kelemahan dapat mengakibatkan penurunan berat badan dan malnutrisi yang serius.
d.      Sangat bermanfaat dalam perhitungan dan penyesuaian diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.
e.       Meningkatkan rasa keterlibatannya, memberikan informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi pasien.

3.      Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrisi ke sel.
Tujuan:
·         Tekanan darah normal.
·         Pangisian kapiler baik.
Kriteria hasil:
·         Menunjukkan perbaikan perfusi yang dibuktikan dengan TTV stabil.
Intervensi
Rasional
a.       Awasi TTV, kaji pengisian kapiler.



b.      Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi.

c.       Kaji untuk respon verbal melambat, mudah terangasang.
d.      Awasi upaya parnafasan, auskultasi bunyi nafas.

a.       Memberikan informasi tentang derajat/ keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan kebutuhan intervensi.
b.      Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler.
c.       Dapat mengindikasikan gangguan fungsi serebral karena hipoksia.
d.      Dispne karena regangan jantung lama/ peningkatan kompensasi curah jantung.

4.      Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen darah.
Tujuan:
·         Mengurangi distress pernafasan.
Kriteria hasil:
·         Mempertahankan pola pernafasan normal / efektif
Intervensi
Rasional
a.       Kaji / awasi frekuensi pernafasan, kedalaman dan irama.



b.      Tempatkan pasien pada posisi yang nyaman.

c.       Beri posisi dan Bantu ubah posisi secara periodic.
d.      Bantu dengan teknik nafas dalam.

a.       Perubahan (seperti takipnea, dispnea, penggunaan otot aksesoris) dapat menindikasikan berlanjutnya keterlibatan/pengaruh pernafasan yang membutuhkan upaya intervensi.
b.      Memaksimalkan ekspansi paru, menurunkan kerja pernafasan dan menurunkan resiko aspirasi.
c.       Meningkatkan areasi semua segmen paru dan mobilisasikan sekresi.
d.      Membantu meningkatkan difusi gas dan ekspansi jalan nafas kecil.

5.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
Tujuan:
·         Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas.
Kriteria hasil:
·         Menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas.
Intervensi
Rasional
a.       Kaji kemampuan pasien dlm melakukan aktivitas
b.      Awasi TD, nadi, pernafasan.


c.       Berikan lingkungan tenang.

d.      Ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing.

a.       mempengaruhi pilihan intervensi.

b.      manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen ke jaringan.
c.       meningkatkan istirahat untuk menurunkan keb oksigen tubuh.
d.      hipotensi postural / hipoksin serebral menyebabkan pusing, berdenyut dan peningkatan resiko cedera.

6.      Kurang pengetahuan pada keluarga tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi.
Tujuan:
·         Pemahaman dan penerimaan terhadap program pengobatan yang diresepkan.
Kriteria hasil:
·         Menyatakan pemahaman proses penyakit.
·         Faham akan prosedur dagnostik dan rencana pengobatan.
Intervensi
Rasional
a.       Berikan informasi tntang ITP. Diskusikan kenyataan bahwa terapi tergantung pada tipe dan beratnya ITP.
b.      Tinjau tujuan dan persiapan untuk pemeriksaan diagnostic.
c.       Jelaskan bahwa darah yang diambil untuk pemeriksaan laboratorium tidak akan memperburuk ITP.

a.       Memberikan dasar pengetahuan sehingga keluarga / pasien dapat membuat pilihan yang tepat.

b.      Ketidak tahuan meningkatkan stress.

c.       Merupakan kekwatiran yang tidak diungkapkan yang dapat memperkuat ansietas pasien / keluarga.


D.    Evaluasi Keperawatan
·                  Keseimbangan cairan kembali ke kondisi normal
·         Menunjukkan berat badan stabil
·         Menunjukkan perbaikan perfusi yang dibuktikan dengan TTV stabil.
·         Mempertahankan pola pernafasan normal / efektif
·         Menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas.
·         Menyatakan pemahaman proses penyakit.
·         Faham akan prosedur dagnostik dan rencana pengobatan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar