Kamis, 28 November 2013

ASUHAN KEPERERAWATAN LEPTOSPIROSIS

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.    Pengertian
Leptospirosis adalah suatu penyakit yang ditularkan dari hewan kepada manusia melalui kulit, seperti selaput lender oral, nasal dan konjungtiva yang disebabkan oleh mikroorganisme leptospira tanpa memandang bentuk spesifik serotipenya. (Kariman Soedin, 1998)
Leptospirosis adalah infeksi menyeluruh manusia dan binatang yang disebabkan oleh spiroheta genus leptospira. (Hasan, Rusepno, 2002)
Leptospira bias terdapat pada binatang piaraan seperti anjing, lembu, babi, kerbau, dll. maupun binatang liar seperti tikus, musang, tupau dan sebagainya. Bila terinfeksi, binatang mengeksresi spiroketa ke dalam urine delama masa yang lama. Leptospira yang bertahan hidup di luar hospes binatang tergantung kelembabab suhu dan pH tanah.

B.     Etiologi
Leptospirosis disebabkan oleh genus leptospira yang terdiri dari 2 kelompok atau kompleks yang pathogen L. Interrogans dan yang non pathogen / saprofit L. Difleexa. Saat ini ditemukan 240 serotipe yang tergabung dalam 23 serogrup, sub group yang dapat menginfeksi manusia, diantaranya : L. Icterohaemorrhagiae, L. Javanica, L. Celledoni, L. Canicola, L. Ballum, L. Phyrogenes, L. Cynopetri, L. Automnalis, L. Australis, L. Pamona, L. Grippothyphosa, L. Hebdomadis, L. Tarassovi, L. Panama, L. Andamana, L. Shermani, L. Ranarum, L. Bufonis, L. Copenhageni, dll.
 
C.    Patofisiologi
 terlampir
D.    Manifestasi Klinik
Leptospirosis merupakan penyakit bifasik yang khas. Selama terjadi leptospiremi atau fase awal, leptospira terdapat di dalam darah dan cairan serebrospinal. Awitan penyakit ini khas mendadak gejala awal berupa sakit kepala di bagian frontal, bitemporal atau oksipital, nyeri otot berat, otot pada paha dan daerah lumbal paling sering terlibat dan seringkali disertai rasa sakit hebat pada perabaan. Mialgia dapat disertai oleh hipertesia kulit yang sangat menonjol (kausagia). Menggigil disertai oleh kenaikan suhu tubuh yang juga jelas terjadi, suhu tubuh meningkat 98,9 % (102 oF) atau lebih. Kompleks gejala tertentu seperti hepatitis, nefitis, pneumonia atifikal, influenza atau gastroenteritis. Pemriksaan selama ini menunjukkan braalkarai dan TD normal, mual, muntah dan anoreksia, malaise, dehidrasi ringan sampai sedang, penurunan kesadaran, splenomegali, hepatomegali, kulit bisa dijumpai ruam berbentuk macular, makulo populor atau utikaria (seperti biduran), diare, batuk atau nyeri dada. Tanda fisik yang paling khas adalah penutupan konjungtiva, fotofobia tetapi jarang di dapati secret serosa atau purulent.
Fase kedua / fase imun berkaitan dengan munculnya 19 M dalam sirkulasi, demam berkurang (suhu < 38,9 oC) dan meningitis aseptic

E.     Pemeriksaan Penunjang
1.      Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan darah rutin biasanya dijumpai leukosirosis dengan jumlah 70.000 sel / mikroliter. Namun demikian, tanpa memandang jumlah total leukosit, seringkali dijumpai neutrofilla (neutrofil lebih dari 70 %) selama tahap awal. Dapat juga dijumpai trombosito penia yang cukup menyebabkan perdarahan (kurang dari 30.000 trombosit / ul) kelainan hematologik lainnya adalah LED meningkat lebih dari sepruh normal (N :     < 50 mm / jam) dan anemia.

2.      Pemeriksaan Urine
Dihasilkan albuminuria jika terjadi komplikasi pada ginjal BUN, ureum dan kreatinin akan meningkat. BUN < 36 mmol/l (100 mg/l).
Adanya komplikasi di hati ditandai dengan peningkatan transaminasi dan bilirubin serum dapat mencapai 110 M mo/l (65 mg/l)

F.     Penatalaksanaan
1.      Pengobatan
Obat-obatan microbial yang dapat dipakai cukup banyak meliputi : pennisilin, streptomisin, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, maupun ciprofloksasin. Dalam 4-6 jam setelah pemberian pennisilin – G, terlihat reaksi tipe jerisch, herx heimmer yang menunjukkan adanya aktifitas anti leptospira. Obat pertma pilihan adalah pennisilin 1,5 juta unit setiap 6 jam selama 5-7 hari.

2.      Keperawatan
Anjurkan klien  tirah baring, anjurkan minum banyak, bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan ajarkan untuk melakukan personal hygiene dan lingkungan.

3.      Pencegahan
Kelompok pekerja dengan insiden leptospirosis tinggi adalah pekerja pertanian, orang-orang yang hidup dan bekerja pada lingkungan yang banyak tikus, individu yang terlibat pada peternakan hewan atau dokter hewan, petugas survei di hutan belantara, tentara dan pekerja laboratorium harus diberi pakaian khusus yang dapat melindungi dari kontak dengan bahan yang telah terkontaminasi dengan kemih binatang liar. Penyediaan air minum penduduk harus bersih dan terjaga dengan baik.

G.    Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada leptospirosis adalah :
a.       Gagal ginjal
b.      Meokarditis
c.       Meningitis aseptic
d.      Hepatitis
e.       Perdarahan masif
f.       Iridosiklitis juga dapat terjadi
g.      Gastroenteritis
h.      Pneumonia
i.        Syok 

ASUHAN KEPERAWATAN
A.    Pengkajian
Adapun yang terkaji pada anak dengan leptopirosis adalah data dasar, meliputi :
§  Data biografi
§  Riwayat kesehatan dahulu
§  Riwayat kesehatan keluarga
§  Riwayat kesehatan sekarang, meliputi keluhan utama yaitu sakit kepala, nyeri otot berat, mual, muntah, dehidrasi, mialgia, kausalgia demam.

Data dasar pengkajian pasien :
1.      Aktifitas istirahat
Kelemahan, malaise, kelelahan
2.      Makanan dan cairan
Mual, muntah, dehisrasi, anoreksia, penurunan BB
3.      Nyeri dan Kenyamanan
Sakit kepala, nyeri otot berat, mialgia, kausalgia.
4.      Eliminasi
Diare
5.      Sirkulasi
Bradikardi, TD normal, ikterik pada sklera
6.      Pemriksaan fisik
§  Inspeksi
-          Faring merah bercak-bercak
-          Ruang macular, makulopapulor, urtikaria
§  Palpasi
-          Splenomegali
-          hepatomegali
§  Perkusi
Pada hepar area batas bawah berbunyi pekak.
§  Auskultasi
Peningkatan bising usu
7.      Tes Diagnostik
§  Periksaan Laboratorium
-          Pemeriksaan darah
Didapatkan hasil leukositosis dengan jumlah 70.000 /ul, dijumpai neutrofilla (neutrofil > 70%) selama tahap awal. Trombositopenia yang cukup menyebabkan perdarahan dari separuh normal dan anemia.
-          Pemeriksaan umum
Albuminuria, bun #, ureum #, kreatinin #
-          Komplikasi dimulai dengan peninggian triminase dab bilirubim.

B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Kekurangan volume cairan b.d hipertensi / output berlebih
2.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake nutrisi tidak adekuat (mual, muntah dan anoreksia)
3.      Gangguan rasa nyaman nyeri b.d nyeri otot berat, sakit kepala dibagian frontal, bitemporal atau oksipital.
4.      Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai O2 dan kebutuhan
5.      Resti penyebaran infeksi b.d pertahanan primer tidak adekuat.
6.      Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi

C.    Rencana Keperawatan
1.      Dx. 1 kekurangan volume cairan b.d demam tinggi, diare
Tujuan              : kebutuhan cairan anak kembali adekuat
KH                   :  -    Demam berkurang / hilang
-          Mukosa bibir lembab
-          Suhu badan 36 – 37 oC
-          Turgor kulit elastis
-          IO seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh
-          Mata tidak cekung
Intervensi         :
1)      Monitor TTV tiap 4 jam
R/  perubahan  TD dan nadi dapat digunakan untuk perkiraan kasar kehila-
ngan darah hipotensi postural menunjukkan pernurunan volume sirkulasi.
2)      Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor tidak elastis, ubun-ubun cekung, produksi urine menurun
R/  indilkator ketidakadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler.
3)      Monitor intake dan output
R/  perubahan  pada  karakteristik  gaster / morilitas  usus  dan mual sangat
mempengaruhi masukan dan kebutuhan cairan, peningkatan resiko dehidrasi
4)      Berikan minuman / cairan yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh.
R/  menurunkan  iritasi  gaster / muntah  untuk  meminimalkan  kehilangan
cairan.
5)      Monitor nilai laboratorium, elektrolit darah, BJ urine, serum albumin
R/  memberikan informasi tentang hidrasi fungsi organ, berbagai gangguan
dengan konsekuensi tertentu pada fungsi sistemik, mungkin sebagai akibat dari perpindahan cairan hipovolemia, hipoksemia, toksin dalam sirkulasi dengan produk jaringan nekrotik.
6)      Monitor pemberian cairan melalui intrevena setiap jam
R/  menggantikan  kehilangan cairan dan memperbaiki keseimbangan cair-
an dalam fase segera pasca operasi dan /atau pasien mampu untuk memenuhi cairan per oral

2.      Dx. 2 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah, anoreksia.
Tujuan              : Kebutuhan nutrisi klien kembali adekuat.
KH                   :  -    BB normal / bertambah
-          Nafsu makan kembali normal / meningkat
-          Mual (-), muntah (-)
-          Konjungtiva emis
Intervensi         :
1)      Ijinkan anak untuk makan makanan yang dapar ditoleransi anak, rencana untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
R/  selera  makan  biasanya  buruk  dan  masukan n utrisi penting mungkin
menurun, tawarkan makanan kesukaan dapat meningkatkan pemasukan oral
2)      Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkat-kan kualitas intake nutrisi.
R/  meningkatkan masukan nutrisi yang adekuat
3)      Anjrkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan porsi kecil tapi sering
R/  tindakan   ini  dapat  meningkatkan   masukan  nutrisi  meskipun  nafsu
makan mungkin lambat untuk kembali.
4)      Anjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan selagi hangat
R/  meningkarkan nafsu makan klien
5)      Pertahankan kebersihan mulut klien
R/  meningkatkan nafsu makan klien/anak
6)      Timbang BB klien
R/  berguna  untuk  menentukan  kebutuhan  kalori,  menyusun  tujuan dan
evaluasi ketidakadekuatan rencana nutrisi.
7)      Jelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit kepada anak ataupun orang tua.
R/  intake nutrisi yang adekuat mempercepat proses penyembuhan.

3.      Dx. 3 Gangguan rasa nyaman nyeri b.d nyeri otot berat, sakit kepala dibagian frontal, bitemporal atau oksipital.
Tujuan              :  Anak  dapat  menunjukkan  dalam  pengontrolan nyeri sesuai
tingkat kesanggupan.
KH                   :  -    Nyeri hilang / terkontrol, skala nyeri : 0-3
-          TTV dalam batas normal
N : 80 – 140 x/mnt
S : 36,1 – 37,5 oC
-          Klien tampak rileks
Intervensi         :
1)      Kaji skala nyeri anak (0-10)
R/  berguna dalam pengawasan keefektifan obat dan kemajuan penyembu-
han.
2)      Dorong anak untuk menemukan posisi yang nyaman : semi fowler
R/  tindakan  alternatif  mengontrol  nyeri  dan  mengurangi sakit kepala di
bagian frontal, bitemporal atau oksipital, resultan ketidaknyamanan lebih lanjut
3)      Ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam
R/  memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol dan dapat
meningkatkan koping.
4)      Gunkanan pelembab yang agak hangat pada nyeri otot paha dan daerah lumbal jika tidak ada demam.
R/  meningkatkan  relaksasi  otot  dan  menurunkan  rasa sakit kepala / rasa
tidak nyaman.
5)      Ukur TTV (suhu dan nadi)
R/  peningkatan  suhu  dan  nadi  mengidentifikasi  adanya  nyeri yang ber-
tambah.
6)      Lakukan massage / pijatan lembut pada daerah nyeri
R/  meningkatkan  relaksasi  dan  meningkatkan  kemampuan  koping anak
dengan memfokuskankembali perhatian anak.
7)      Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi
R/  mengurangi / menghilangkan nyeri yang berat.

4.      Dx. 4 intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai O2 dan kebutuhan tubuh.
Tujuan              : kebutuhan  aktivitas  klien  kembali  normal  dan  klien  dapat
istirahat dengan optimal.
KH                   :  -    Anak bermain dan istirahat dengan cepat dan mengguna-
kan aktivitasnya sesuai perkembangan dan kesanggupan.
-          Anak dapat bertoleransi terhadap aktivitas
-          Anak dapat istirahat cukup
-          Anak tetap tenang, aman dan santai / rileks
-          TD anak dalam batas normal
Intervensi         :
1)      Kaji tingkat aktivitas anak
R/  menetapkan  kemampuan / kebutuhan  pasien  dan memudahlan pilihan
 intervensi.
2)      Kaji anak terhadap aktivitasnya sehari-hari
R/  menetapkan  kemampuan / kebutuhan  sehari - hari  dan   memudahkan
pilihan intervensi.
3)      Tingkatkan tirah baring / duduk
R/  menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan aktivitas dan
posisi duduk yang tegak diyakini menurunkan aliran darah ke kaki, yang mencegah sirkulasi optimal ke sel hati.


4)      Monitor TTV (TD, N, RR) selama dan sesudah aktivitas
R/  manifestasi  kardiopulmonal  dari  upaya  jantung dan paru untuk mem-
bawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan.
5)      Berikan bantuan dalam aktivitas / ambulasi dan dekatkan barang-barang / alat-alat yang dipergunakan
R/  membantu  meringankan  beban  anak dan menghemat energi guna ber-
aktivitas.
6)      Ubah posisi anak dengan perlahan dan pantau terhadap sakit kepala.
R/  hipotensi  postural  atau  hipoksia serebral dapat menyebabkan pusing /
sakit kepala, berdenyut dan peningkatan resiko cedera.

5.      Dx. 5 Reti Penyebaran infeksi b.d pertahanan primer tidak adekuat.
Tujuan              : penyebaran infeksi tidak terjadi
KH                   :  -    Tidak  terdapat  tanda-tanda  infeksi  (tumor, rubor, dolor,
kalor dan fungsiolaesa)
-          TTV dalam batas normal (S: 36  37 oC)
Intervensi         :
1)      Berikan tindakan isolasi sebagai tindakan pencegahan
R/  isolasi  mungkin diperlukan sampai organismenya diketahui/dosis anti-
biotik yang cocok yang diberikan untuk menurunkan resiko penyebaran pada orang lain
2)      Pertahankan tehnik aseptik dan tehnik cuci tangan yang tepat baik pasien, pengunjung maupun staf. Pantau dan batasi pengunjung / staf sesuai kebutuhan.
R/  menurunkan resiko pasien terkena infeksi sekunder, mengontrol penye-
baran sumber infeksi, mencegah pemajanan pada individu terinfeksi.
3)      Pantau suhu secara teratur, catat munculnya tanda-tandaklinis dan proses infeksi

R/  timbulnya  tanda  klinis  yang  terus-menerus  merupakan  indikasi per-
kembangan patogen secara hematogen / sepsis.
4)      Catat karakteristik urine, seperti warna, kejernihan dan bau
R/  urine statis,  dehidrasi  dan  kelemahan umum meningkatkan resiko ter-
 hadap infeksi kandung kemih / ginjal.
5)      Hindari pemakaian barang / alat-alat yang telah digunakan oleh anak
R/  mencegah resiko penularan infeksi pada anggota keluarga lainnya
6)      Kolaborasi pemberian therapi antibiotik IV sesuai indikasi.
R/  obat  yang  dipilih tergantung pada tipe infeksi dan sensitivitas individu
dan mengurangi penyebaran infeksi.

6.      Dx. 6 Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi
Tujuan              : pengetahuan keluarga /orangtua bertambah (tentang penyakit)
setelah dilakukan intervensi
KH                   :  -    Keluarga dapat menjelaskan kembali tentang pengertian,
penyebab, tanda dan gejala dan pencegahan dari penyakit leptopirosis.
Intervensi         :
1)      Berikan informasi dalam bentuk-bentuk dan segmen yang singkat dan sederhana tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala dan pencegahan dari penyakit leptopirosis.
R/  dengan adanya informasi yang diberikan maka akan menambah penge-
tahuan keluarga dan mau mengikuti program medik.
2)      Ajarkan keluarga dalam mengukur suhu
R/  antisipasi kenaikan suhu anak selama dalam pengawasan orang tua.
3)      Berikan informasi pentingnya peningkatan kesehatan umum dan keejahteraan istirahat dan aktivitas seimbang, nutrisi adekuat dan intake cairan sesuai dengan toleransi.
R/  meningkatkan pertahanan alamiah atau imunitas
4)      Anjurkan keluarga untuk selalu memberikan pengawasan pada anak dalam beraktivitas misal bermain.
R/  pencegahan dini terjangkitnya penyakit leptospirosis

D.    Implementasi
Lakukan tindakan sesuai rencana dan prioritas yang ditetapkan

E.     Evaluasi
1.      Volume cairan anak kembali adekuat
2.      Nutrisi anak kembali adekuat
3.      Nyeri hilang / terkontrol
4.      Aktivitas anak kembali adekuat
5.      Resti penyebaran infeksi tidak terjadi
6.      Pengetahuan keluarga bertambah
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar